paranoia
ternyata sulit ya. kuingin bukan masalah ketika memaksa untuk berusaha baik-baik saja, terlepas dari semua pikiran dan teori yang telah dipelajari, eksekusi tetap saja menjadi kesulitan. meskipun kali ini posisi pikiranku lebih mengarah ke positif, ternyata hipotesis negatif pun masih terbuktikan dengan data yang ada. berbohong jika aku tidak ingin mengobati aku. tapi prioritasku kali ini bukan aku. melepas semua lara yang aku dapatkan. di ruang lain aku ingin menolongmu. entah mengapa. balas dendam merupakan hal yang menarik hati ini. akan tetapi apa manfaatnya?. karena membuat orang lain selalu mengingat kebaikan yang dilakukan adalah hal yang aku inginkan, seperti orang-orang yang belum lama ini memberiku semua makna tentang pemberian.
aku takut dengan pikiran gelapku yang kadang masih muncul di permukaan, merubah pandangan tentang kehidupan tidak semudah mendengar cerita orang lain. ketakutan ini terhadap pikiran yang selama ini ada dalam ruang. apakah selama ini hanya memanfaatkan bahkan tanpa memikirkan?. dengan tanggung jawab yang dibebankan oleh mufakat sebuah musyawarah, aku berpikir apakah ini saatnya dia menebar kebaikannya lagi denganku? karenamu pun tahu bahwa aku sangat mudah diluluhkan kali ini. setelah beban itu selesai, meninggalkan aku sebagai persemaian. apakah itu yang ingin dia lakukan? tentu saja pertanyaan negatif itu berada sudut ruang gelap yang ada di dalam jiwa, yang sedang di tahap revitalisasi.
sebagian kecurigaan dan ketakutan itu disebabkan oleh cara berpikir yang irasional. lebih menggunakan rasa daripada logika. mengapa aku harus melakukan semua itu? jawaban dengan logika adalah perbuatan baik karena membantu orang lain. alasan lain adalah rasa bahagia saat bertemu dan melihat senyum menawan yang harusnya biasa saja. tentu saja bahagia ini hanya sementara, memangnya ada kebahagaian selamanya? mungkin jawabnya hanya surga. tidak salah ketika manusia mengejar kesementaraan karena memang sulit mendapatkan. meningkatkan kualitas pikiran adalah solusi yang memang harus selalu dipelajari.
problematika tentang bagaimana harapan dan melepaskan selalu muncul di pikiran. bagaimana dengan kesimpulan?. walaupun data kualitatif yang terkumpul pun sebenarnya sudah cukup untuk membuat bab kesimpulan. namun, entah mengapa masih saja terasa abstrak dan acak-acakan. rasa takut akan pilihan yang salah selalu menghantui diri. aku akan berusaha membalas kebaikan orang-orang yang selalu berbuat baik kepada aku. meskipun mungkin, jika memang dia hanya memanfaatkanku, aku akan tetap selalu berterima kasih, karena telah memberiku banyak hal yang tidak diberikan orang lain.
sialan phobos dan deimos bersaudara itupun masih saja menggangguku. aku takut kau membenciku, aku takut berada jauh darimu, aku takut hal yang aku lakukan selama ini mengganggumu, aku takut jika ternyata selama ini aku menyakitimu, aku takut jika nantinya kau mendapatkan seseorang yang meskipun kau menginginkannya tapi malah membuatmu luka. aku takut tentang apa yang akan terjadi bila seorang penting dalam diri ini pergi begitu saja. terutama setelah beban tanggung jawab yang diberikan sudah terlaksanakan. tentu saja aku tidak berpikiran buruk. walau mungkin merasa telah dimanfaatkan lalu ditinggal, berbuat baik hanya karena kau memerlukanku, bersama dengan yang lain hanya karena masalah waktu. tidak tidak seperti itu. terima kasih karena selama ini telah memberikan data yang aktual. karena mungkin bila tidak, entah hal buruk apa saja yang terjadi.
tindakan-tindakan yang selama ini kulakukan hanya mengikuti kata hati yang sedang di revitalisasi ini. bukan tentang ambisiku mendapatkanmu. bukan tentang mencari seseorang yang terbaik untukku. tapi aku ingin membantu, karena orang yang banyak membantuku harusnya juga memang harus aku bantu. itu pun jika itu memang menurutmu itu sebuah masalah untukmu. ataupun entahlah jikalau itu memang tindakan sengaja darimu hanya untuk memenuhi ego dan keinginanmu.
jika ‘mungkin’ kau merasa bersalah denganku. tidak perlu meminta maaf, kurasa aku tidak butuh, dan aku akan selalu memaafkanmu. tidak perlu untuk takut meminta bantuanku.“there is seat here, alongside me” . aku tidak ingin membuat jarak denganmu. jadi tolong jangan pergi. tidak peduli seberapa dalamnya jurang yang aku jatuh disini. aku tidak pernah membenci. aku peduli denganmu, aku khawatir denganmu. aku akan merasa terhormat apabila bisa mengatasi masalahmu, apapun itu. dan aku akan senang menuruti semua keinginanmu, meskipun aku terlampau lambat dari beberapa orang lain yang mengejarmu.
pemetaan masalah kali ini terlampau sulit. setelah apapun yang terjadi selalu kuucapkan.
mohon maaf dan terima kasih.
Komentar
Posting Komentar