perspektif
sebuah catatan untuk malam ini
aku belajar bahwa ada banyak perbedaan pandangan tentang bersyukur. tidak hanya berkata “kamu harusnya bersyukur” namun, “ya, sekarang aku mengerti mengapa kau memutuskan untuk seperti itu”
malam ini aku mendengar sebuah kisah yang bahkan aku tidak menduganya sebelumnya. dengan kisah yang menurutku tidak ada hal benar atau salah tentang sebuah keputusan dari seorang orang tua yang menginginkan hal yang menurutnya terbaik untuk anaknya
menurutku, hal ini merubah pandanganku tidak hanya tentang rasa bersyukur namun sebuah perspektif(ku) tentang kehidupan yang semakin meluas
diawali bukan dengan seorang yang sombong dan menyatakan dia memiliki segalanya. (dia) mengawalinya dengan rasa syukur yang berbeda. dengan menyeritakan bagaimana kehidupannya selama ini dan bagaimana dia menginginkan kehidupan yang seperti apa
“harusnya dia bersyukur memiliki hal-hal tersebut, dan harusnya menuruti keinginan orang tuanya” mungkin sebagian orang akan mengatakan hal tsb dan berpendapat bahwa dia hanya harus melanjutkan “legacy” dari ayahnya. “itu” pun juga pikirku dulunya
dengan keyakinannya dia pun tidak ingin untuk semudah itu mendapatkan sesuatu. bahkan seharusnya dengan “privilege” sebesar itu, kuliah pun harusnya tidak harus dipikirkan serumit itu, bahkan tanpa kuliah pun ia bisa hidup dengan mudah.
dengan segala kepingan perbuatan orang tua kepadanya, aku berpikir bahwa semua hal itu memang sangat membuat seseorang akan memilih keputusan yang bertentangan dengan orang tuanya
aku cukup mengapresiasi seseorang yang bisa kusebut seorang yang sangat dekat denganku, seseorang yang membuatku selalu bangga karena memilikinya sebagai seorang sahabatku.
Komentar
Posting Komentar