wer
dalam kehidupan, hubungan interpersonal adalah segalanya. dalam suatu hubungan terutama interpersonal diperlukan komunikasi yang baik. penyampaian yang jelas dengan diksi yang tepat mengakibatkan proses penerimaan informasi menjadi efektif. ketika seseorang yang memiliki kemampuan komunikasi yang baik, yang sekarang sangat dikenal dengan public speaking. seseorang akan dengan mudah mengendalikan orang lain atau bahkan peristiwa/fenomena tertentu. orang yang mendengarkan pun akan merasa nyaman dengan semua yang ia sampaikan tersebut. bahkan seorang wanita pun akan luluh dan memilih menjalin hubungan romantisme “buaya” yang pandai bicara daripada seorang pria pendiam yang benar-benar setia, begitu pula sebaliknya. lain dari seorang politikus menyampaikan janji yang terkesan sangat meyakinkan dengan kemampuan berbicara yang sangat mengesankan, meskipun janji-janji tersebut faktanya ialah omong kosong. karena memang sepenting itulah komunikasi. sebagai bagian penting dari komunikasi, berbicara yang dilengkapi dengan kepandaian penyusunan materi yang tepat akan memudahkan seseorang untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.
dewasa ini setelah menyadari bahwa segala jenis relasi dalam kehidupan dan sosial kemasyakaratan membutuhkan kemampuan komunikasi asertif yang baik, sebuah gangguan menghampiri beberapa orang. didukung dengan kondisi psikologis yang buruk, kemampuannya dalam bersosialisasi mengakibatkan hubungan interpersonalnya menjadi semakin terpuruk. kondisi itu antara lain seperti perasaan inferior, pesimistik, mudah cemas, serta diffident.
keadaan itu menginginkan ia untuk kesulitan melakukan hal yang seharusnya ia butuhkan untuk menjalani kehidupan dewasa ini. seseorang itu menyadari bahwa perasaan inferioritas dan apapun hal buruk yang ada di pikirannya adalah asumsi subjektifnya. meskipun demikian, ia sadar bahwa se-minimal mungkin harusnya yang ia lakukan adalah memperbaiki kondisi psikologisnya yang buruk itu. namun, bukan hal mudah ketika ingin menghilangkan suatu refleksi yang sekian lama telah ada dalam diri.
selanjutnya, seseorang itu berpikir apakah kemampuan komunikasinya-lah yang memperburuk psikis-nya atau malah keadaan psikologisnya-lah yang memperburuk kemampuannya berkomunikasi?.
tentu berkeyakinan untuk mempunyai hubungan interpersonal yang sehat adalah hal yang semestinya dilakukan. hubungan yang telah lama dibangun sekarang hanya menyisakan beberapa lingkaran kecil yang ia yakini. bahkan dengan lingkaran kecil tersebut, terasa masih menakutkan apabila suatu saat ditinggalkan oleh lingkaran tersebut karena sifat inferior yang dimiliki. dengan kemampuan komunikasi-nya, serta fearful-avoidant yang orang itu miliki, ia merasa sulit untuk membangun koneksi dengan seseorang atau bergabung ke lingkaran baru. jika, kalian berpikir bahwa orang tersebut tidak berusaha keras melakukan apapun untuk membuat dirinya lebih baik, maka, ya, mungkin kalian benar. karena sebagai seorang aetiologist, maka ia juga percaya bahwa, semua akibat dari kondisinya adalah keinginan atau kelakuan-nya sendiri. namun, bagaimana jika, orang itu tidak mengetahui apa yang sebenarnya ia inginkan
Komentar
Posting Komentar